Scroll untuk baca artikel
BERITA TERBARUKABAR DAERAH
2
×

Sebarkan artikel ini

Foto: Tradisi Kupatan Trenggalek/ ist

TRENGGALEK, AJTTV.COM – Semangat warga Kecamatan Durenan, Trenggalek, untuk menyambut Lebaran Ketupat (Kupatan) yang jatuh pada Sabtu (28/3/2026) besok tak surut meski cuaca kurang bersahabat. Walaupun wilayah Durenan dan sekitarnya terus diguyur hujan lebat sejak hari ini, Jumat (27/3), persiapan dapur warga untuk menjamu tamu tetap “ngepul” maksimal.

​Bagi masyarakat Durenan, Kupatan adalah hari kemenangan kedua setelah Idulfitri. Tradisi open house besar-besaran yang sudah melegenda ini tetap dipersiapkan dengan matang, termasuk oleh Basuki , warga Desa Durenan.

Ritual 9 Jam Demi Ketupat Pulen

Basuki mengaku telah menyiapkan sedikitnya 80 ketupat janur hasil anyaman sendiri. Ada dua jenis ketupat yang ia siapkan: Ketupat Bawang dan Ketupat Tompo yang berukuran lebih besar.

​Rahasia kelezatan ketupat Durenan ternyata terletak pada kesabaran. Basuki menjelaskan proses perebusan bisa memakan waktu hingga 9 jam melalui tiga kali tahapan rebus.

“Memang ada cara singkat, tapi kalau mau pulen dan tidak cepat basi, ya harus sabar direbus lama,” ungkapnya. Ketupat ini nantinya akan disandingkan dengan menu andalan seperti sayur tewel (nangka muda), rica entok, hingga bakso.

Dibayangi Hujan Lebat

Namun, perayaan tahun ini diprediksi akan berlangsung dalam suasana basah. Hujan lebat yang mengguyur Durenan sejak Jumat sore menjadi tantangan tersendiri bagi warga yang sedang melakukan persiapan akhir. Meski demikian, antusiasme masyarakat tetap tinggi mengingat tradisi ini merupakan warisan turun-temurun yang menjadi magnet bagi pendatang dari luar kota.

Transformasi Tradisi: Dari Bubuk Kedelai ke Menu Modern

Basuki mengenang, tradisi asli Kupatan dulu sangat sederhana, hanya ketupat dengan pelengkap bubuk kedelai sangrai. Namun sejak tahun 1990-an, tradisi ini berkembang menjadi jamuan terbuka dengan menu yang lebih beragam.

“Dulu ada bubuk kedelai khas, tapi sekarang sudah jarang sekali ditemukan. Sekarang menu lebih variatif,” tambahnya.

​Meski cuaca sedang ekstrem, Basuki dan warga Durenan lainnya tetap membuka pintu lebar-lebar bagi siapapun yang ingin bersilaturahmi besok.

“Alhamdulillah, tiap tahun selalu habis. Mau makan di tempat atau dibawa pulang, kami justru sangat senang,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *