TRENGGALEK, AJTTV.COM – Ada pemandangan tak lazim di Hutan Kota (Huko) Trenggalek, Sabtu (07/02/2026). Di tengah gelaran Operasi Keselamatan Semeru 2026, alih-alih melakukan penyekatan jalan atau membawa megaphone yang bising, jajaran Satlantas Polres Trenggalek justru terlihat asyik “ngopi” dan berbincang santai dengan pengunjung kuliner.
Strategi “gerilya humanis” ini sengaja dipilih untuk meruntuhkan tembok pembatas antara petugas dan warga.
Tanggalkan Megaphone, Kedepankan Sapaan
Unit Kamsel Satlantas Polres Trenggalek memilih cara yang lebih “nguwongne” (memanusiakan). Tanpa suara sirine, petugas membaur di area kuliner wisata andalan Trenggalek tersebut. Sambil menyapa warga yang sedang menikmati hari libur, pesan-pesan keselamatan berkendara disisipkan dalam obrolan hangat.
Kapolres Trenggalek, AKBP Ridwan Maliki, melalui Kasatlantas AKP Sony Suhartanto, menegaskan bahwa pendekatan ini adalah upaya untuk menghilangkan kesan “seram” pada polisi saat operasi berlangsung.
“Kita hilangkan sekat. Selama ini masyarakat sering sungkan atau takut kalau ada operasi. Dengan cara begini, mereka malah lebih berani curhat dan menyampaikan informasi seputar lalu lintas kepada kami,” ungkap AKP Sony, Minggu (8/2/2026).
Membangun Budaya, Bukan Sekadar Patuh karena Takut
Output yang diharapkan dari pendekatan ramah ini bukan sekadar masyarakat yang takut ditilang, melainkan munculnya kesadaran mandiri. Polisi ingin tertib lalu lintas menjadi gaya hidup atau budaya, bukan beban aturan.
Kemandirian masyarakat inilah yang menjadi kunci utama penurunan angka fatalitas kecelakaan di wilayah hukum Polres Trenggalek.
“Kalau hubungan sudah harmonis, dukungan masyarakat terhadap Operasi Keselamatan Semeru 2026 akan muncul secara alami. Kami ingin menekan angka pelanggaran dengan cara yang lebih menyentuh hati,” pungkasnya.












