TULUNGAGUNG, AJTTV.COM – Suasana Dusun Patikreck, Desa Jatimulyo, berubah menjadi drama penyelamatan nyawa yang dramatis pada Sabtu (24/1/2026) siang. Seorang remaja berkebutuhan khusus (17) nyaris terpanggang api setelah rumahnya terkepung si jago merah saat ia ditinggal sendirian dalam kondisi pintu terkunci.
Kepulan asap hitam yang membubung dari kediaman Sutikno (56) menjadi alarm pertama bagi warga sekitar untuk melakukan aksi heroik.
Penyelamatan di Tengah Kepungan Asap
Menyadari ada nyawa yang terancam di dalam rumah yang terkunci dari luar, warga tak menunggu lama. Dengan alat seadanya dan pompa air listrik, warga berjibaku menjebol akses masuk sebelum api melalap habis seluruh ruangan.
Remaja siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) tersebut akhirnya ditemukan dalam kondisi lemas akibat menghirup gas beracun (monoksida). Beruntung, ia berhasil dievakuasi tepat waktu sebelum bangunan hangus 50 persen. Korban kini tengah berjuang pulih dari trauma dan sesak napas di RSI Tulungagung.
Pemicu Petaka: Charger Ponsel yang Terlupakan
Kasi Operasi dan Pemadaman Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Penyelamatan Kabupaten Tulungagung, Bambang Pidekso mengungkapkan bahwa timnya tiba di lokasi pukul 10.58 WIB untuk melokalisir sisa api. Berdasarkan investigasi awal, penyebab kebakaran ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat.
“Dugaan sementara, api dipicu oleh korsleting listrik pada pengisi daya (charger) ponsel yang masih terpasang di ruang tamu. Ini menyebabkan kegagalan elektrikal yang cepat merembet ke bagian bangunan,” ungkap Bambang.
Pesan Penting bagi Orang Tua
Selain kerugian materiil yang mencapai Rp150 juta, insiden ini menyisakan pelajaran berharga mengenai keamanan anggota keluarga yang rentan.
Bahaya Meninggalkan Anak Sendirian, Terutama dalam kondisi pintu terkunci dari luar, yang sangat menyulitkan evakuasi mandiri saat darurat.
Membiarkan charger tetap terpasang di stopkontak tanpa beban (ponsel) berisiko memicu panas berlebih dan arus pendek.
”Dokumen berharga milik korban berhasil diselamatkan, namun kondisi psikologis korban menjadi prioritas penanganan saat ini,” pungkas Bambang.












