Scroll untuk baca artikel
BERITA TERBARUKABAR DAERAH

Era Baru Penanganan Banjir Surabaya: Dari ‘Tambal Sulam’ ke Solusi Per Kawasan

171
×

Era Baru Penanganan Banjir Surabaya: Dari ‘Tambal Sulam’ ke Solusi Per Kawasan

Sebarkan artikel ini

Satgas Pemkot Surabaya sedang berjibaku mengangkat Sampah di saluran. (Foto: Kominfo)

SURABAYA, AJTTV.COM – Menjelang musim hujan, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya di bawah kepemimpinan Wali Kota Eri Cahyadi menggebrak dengan pendekatan baru yang revolusioner dalam upaya pengendalian banjir. Tidak lagi mengandalkan solusi sesaat atau “tambal sulam” di titik-titik genangan, Pemkot kini fokus pada strategi berbasis per wilayah demi solusi permanen.

​Wali Kota Eri Cahyadi menegaskan bahwa ancaman iklim telah berubah, menuntut tindakan yang lebih drastis. “Kita lihat kondisi di Jakarta dan Bali, curah hujan sudah tidak seperti biasanya,” ujar Eri, seraya memberikan peringatan keras kepada warga: Masyarakat jangan menutup saluran atau sungai dengan bangunan. Itu jalur air, kalau ditutup, mustahil bebas banjir.”

Transformasi Wilayah: Bukti Nyata di Selatan dan Barat

​Pendekatan per kawasan ini telah menunjukkan hasil yang signifikan. Eri mencontohkan wilayah Surabaya Selatan—meliputi Ahmad Yani, Ketintang, Kebonsari, Jemursari, hingga Prapen—yang kini menjadi fokus utama pembenahan. Saluran-saluran di kawasan ini diperbesar secara masif untuk menjamin kelancaran aliran air.

​”Dulu di Dukuh Kupang, banjir sampai seleher. Sekarang, setelah diselesaikan per kawasan, sudah tidak ada sama sekali,” ungkap Eri, menggambarkan betapa efektifnya pola penanganan yang komprehensif ini.

​Prestasi serupa juga dicapai di Surabaya Barat. Wilayah seperti Pakal dan Benowo yang sebelumnya langganan genangan, kini telah terbebas berkat perbaikan sistem drainase yang tuntas. “Tidak bisa hanya bangun U-ditch di titik banjir. Harus diselesaikan per kawasan,” tegasnya, menyingkirkan paradigma penanganan banjir yang sempit.

​Percepatan Infrastruktur: Bozem dan Pompa Jadi Kunci

​Selain pelebaran saluran, Pemkot juga gencar menambah infrastruktur vital seperti bozem (kolam retensi) dan rumah pompa. Di kawasan Ketintang, misalnya, air kini diarahkan ke Rumah Pompa Kebonsari.

​Langkah inovatif juga dilakukan di sekitar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Ketintang, di mana Pemkot tak hanya mengeruk saluran, tetapi juga membuat jalur air baru langsung menuju Kali Tengah Wiyung. Kebijakan ini memastikan air tidak lagi meluap ke permukiman warga.

​Dengan percepatan penanganan yang luar biasa, Wali Kota Eri Cahyadi menargetkan ambisius. Jika pola kerja biasa menuntaskan persoalan ini hingga 2029, dengan strategi per kawasan dan penambahan infrastruktur, ia menarik target penyelesaian hingga 2026.

Kalau tidak ada percepatan, penyelesaiannya bisa sampai 2029. Karena itu kita tarik percepat sampai 2026,” pungkas Eri, menegaskan komitmen Pemkot untuk mewujudkan Surabaya Bebas Genangan dalam waktu yang lebih singkat.

Reporter : Kuswanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *