Scroll untuk baca artikel
KABAR DAERAH

Nestapa Sentra Telur Nasional: Alasan Peternak Blitar Bagi 1 Juta Telur Gratis dan Tolak Korporasi Besar

15
×

Nestapa Sentra Telur Nasional: Alasan Peternak Blitar Bagi 1 Juta Telur Gratis dan Tolak Korporasi Besar

Sebarkan artikel ini

Peternak Mikro kecil Blitar bagi bagi 1 juta Telur ( Hariyanto ajttv.com)

BLITAR, AJTTV.COM — Suasana di depan Kantor Bupati Blitar, Kanigoro, pada Senin (1/6/2026) mendadak berubah menjadi lautan manusia. Ribuan warga rela mengantre panjang di bawah terik matahari ekstrem. Namun, ini bukan festival pangan murah atau pasar rakyat.

​Aksi bertajuk “Bagi-Bagi 1 Juta Telur” yang diinisiasi oleh peternak mikro kecil Blitar Raya ini adalah sebuah simbol keputusasaan sekaligus protes keras. Di balik senyum warga yang membawa pulang telur gratis, ada jeritan para peternak ayam petelur rakyat yang usahanya kini berada di ujung tanduk.

Dilema Pakan Mahal, Harga Telur Anjlok Rp 21.000 per Kg

​Sebagai salah satu sentra telur nasional yang memasok kebutuhan pangan ke berbagai penjuru Indonesia, kondisi peternak Blitar saat ini justru sangat ironis. Harga telur di tingkat peternak merosot tajam hingga menyentuh angka Rp 21.000 per kilogram.

Baca Juga : Transformasi Penyintas Banjir Aceh Tamiang: LMI Berdayakan Warga Jadi Peternak Ayam Petelur Mandiri

Angka tersebut dinilai jauh dari titik aman operasional. Masalahnya kian pelik karena penurunan harga ini tidak dibarengi dengan turunnya biaya produksi.

​“Kami tinggalkan kandang bukan untuk jalan-jalan. Kami datang karena dapur kami terancam berhenti mengepul!” teriak salah satu orator dari atas mobil komando, disambut sorak ratusan peserta aksi.

Para peternak mengeluhkan harga jagung, konsentrat, hingga bahan baku pakan yang terus merangkak naik. Akibatnya, margin keuntungan terkikis habis dan berubah menjadi kerugian harian. Mereka menuntut ketegasan pemerintah dalam menegakkan Harga Acuan Pembelian (HAP) telur ayam.

Baca Juga : Protes Investor Asing, Peternak Ayam di Tulungagung Bagikan Telur Gratis

“Katanya ada aturan untuk melindungi peternak, tapi di lapangan kami tetap rugi setiap hari. HAP harus ditegakkan, jangan hanya jadi tulisan di atas kertas,” cetus seorang peternak dengan nada kecewa.

Tolak Invasi Investor Besar: “Jangan Sampai Kami Mati di Kandang Sendiri”

​Selain masalah harga, aksi turun ke jalan ini juga menyuarakan penolakan keras terhadap masuknya investasi skala besar (korporasi) di sektor peternakan ayam petelur rakyat.

​Peternak lokal merasa terancam dengan ekspansi perusahaan raksasa yang memiliki ketimpangan modal, kapasitas produksi massal, serta akses pasar yang jauh lebih kuat. Persaingan ini dinilai tidak sehat dan berpotensi mematikan usaha mikro kecil.

​Suyanto, seorang peternak mikro asal Blitar, mengakui bahwa periode ini adalah salah satu fase terberat yang pernah ia alami.

​“Kami bukan anti investasi. Tapi kalau merugikan peternak rakyat, kami tolak investasi besar. Kalau terus seperti ini, yang kecil makin habis dan gulung tikar,” ungkap Suyanto.

Respons Pemkab Blitar: Siapkan Solusi Lewat Program Makan Bergizi Gratis

​Aspirasi dan jeritan para peternak ini langsung mendapat respons dari jajaran pemerintah daerah. Bupati Blitar Rijanto bersama Wakil Bupati Blitar Beky Hardiansah turun langsung menemui massa aksi untuk berdialog.

​Rijanto mengakui bahwa harga Rp 21.000 per kilogram adalah ancaman serius bagi roda ekonomi Blitar. Untuk mengatasi hal tersebut, Pemkab Blitar menyiapkan dua langkah strategis yaitu Memperluas penyerapan telur peternak lokal melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada program Makan Bergizi Gratis dan Memanfaatkan jaringan Koperasi Merah Putih sebagai wadah pemasaran agar harga telur di tingkat peternak kembali stabil.

Baca Juga : Dua Kelompok Ternak Tulungagung Raih Penghargaan di Tingkat Provinsi Jawa Timur

Terkait desakan penolakan korporasi besar, Rijanto menegaskan bahwa Pemkab Blitar akan mengkaji ulang kebijakan perizinan usaha peternakan skala besar di wilayahnya demi melindungi peternak rakyat.

​Meskipun aksi pembagian satu juta butir telur gratis ini berakhir dengan tertib, peristiwa ini menyisakan ironi yang mendalam. Mereka yang menyuapi nutrisi bangsa kini harus berdarah-darah demi menyelamatkan kandang mereka sendiri.