Scroll untuk baca artikel
BERITA TERBARUKABAR DAERAH

Krisis di Dapur Ibu-Ibu: Pohon Kelapa Kian Punah di Tulungagung, Harga Meroket Rp18 Ribu per Butir

260
×

Krisis di Dapur Ibu-Ibu: Pohon Kelapa Kian Punah di Tulungagung, Harga Meroket Rp18 Ribu per Butir

Sebarkan artikel ini

Ilustrasi Pohon kelapa

TULUNGAGUNG, AJTTV.COM – Pemandangan pohon kelapa yang menjulang tinggi di pekarangan rumah kini menjadi pemandangan langka di Kabupaten Tulungagung. Secara perlahan, pohon kelapa yang dulunya merupakan tanaman wajib di hampir setiap rumah warga, kini mulai punah tergerus oleh perubahan tata ruang dan komoditas tanaman lain.

​Hilangnya pohon kelapa ini menimbulkan kekhawatiran serius, terutama di kalangan ibu rumah tangga, mengingat kelapa adalah kebutuhan pokok dan bahan dasar wajib untuk memasak hidangan tradisional.

​Kelapa Tergeser Komoditas Lain di Lahan Warga

​Fenomena kelangkaan ini tidak hanya terjadi di area pemukiman, tetapi juga di lahan-lahan pertanian warga. Banyak ladang yang dulunya ditanami kelapa kini beralih fungsi atau berganti tanaman komoditas lain yang dinilai lebih menjanjikan secara ekonomi jangka pendek.

​Tri utami warga lokal mengungkapkan keprihatinannya, “Dulu, kalau mau masak santan, tinggal petik di belakang rumah. Sekarang, pohonnya sudah tidak ada. Di ladang pun sudah diganti tanaman lain.”Terangnya, Jumat.

​Dampak Ekonomi: Harga Kelapa Melonjak Signifikan

​Dampak langsung dari kelangkaan ini terasa di pasar tradisional. Hilangnya pasokan lokal membuat harga kelapa melonjak tajam dan membebani anggaran belanja rumah tangga.

​Saat ini, harga satu butir kelapa di Tulungagung dilaporkan mencapai angka yang mengejutkan, yakni Rp18.000 per butir. Kenaikan harga ini kontras dengan status kelapa sebagai salah satu kebutuhan pokok yang harus tersedia di dapur setiap hari.

​Krisis pasokan kelapa lokal ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Selain nilai ekonominya, pohon kelapa memiliki nilai budaya dan ekologis yang harus dipertahankan. Jika tren ini berlanjut tanpa adanya gerakan reboisasi atau penanaman kembali, ketergantungan pada pasokan dari luar daerah akan semakin tinggi, dan harga kelapa berpotensi terus meroket, menambah beban hidup masyarakat kecil.

Reporter : Dw

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *