Scroll untuk baca artikel
BERITA TERBARULAPORAN KHUSUS

Melawan Senja dan Hujan: Mbah Karmi Kayuh Sepeda Tua Demi Anak yang Sakit

80
×

Melawan Senja dan Hujan: Mbah Karmi Kayuh Sepeda Tua Demi Anak yang Sakit

Sebarkan artikel ini

Mbah Karmi (71), seorang pedagang kue tradisional yang mengayuh sepeda bututnya melintasi jalanan Tulungagung ( Nursidik ajttv.com)

TULUNGAGUNG, AJTTV.COM – Di balik derai senja dan tetesan air hujan yang membasahi jalan, ada sebuah perjuangan gigih yang menolak padam. Sosok itu adalah Mbah Karmi (71), seorang pedagang kue tradisional yang mengayuh sepeda bututnya melintasi jalanan Tulungagung.

​Mbah Karmi adalah potret pejuang sejati. Di usia kepala tujuh, ia bukan hanya berjuang melawan waktu dan cuaca, tetapi juga memikul beban tanggung jawab yang berat seorang diri setelah suaminya meninggal dunia. Ia menjadi tulang punggung utama, menghidupi dua anaknya, di mana salah satu anaknya memiliki riwayat sakit berkepanjangan yang menuntut biaya dan perhatian.

​Berangkat dari Kedungwaru, Menjajakan hingga Ngemplak

​Perjuangan Mbah Karmi dimulai setiap hari dari rumahnya di Desa Gendingan, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung.

​Setelah menyiapkan seikat kayu bakar untuk proses memasak dan menyelesaikan kue-kue tradisional seperti kue lapis, bikang, dan aneka penganan lainnya di dapurnya, ia pun memulai perjalanan panjang.

​Dengan tubuh yang mulai ringkih, Mbah Karmi mengayuh sepeda tua itu menuju rute andalannya: menuju Pasar Ngemplak dan berkeliling di sekitarnya. Perjalanan dari Kedungwaru hingga ke area Ngemplak dan kembali lagi adalah bukti dari ketekunan yang luar biasa.

​Semangat yang Menolak Menyerah pada Penderitaan

​Dalam kondisi jalan yang basah dan dingin, pemandangan Mbah Karmi berjalan tertatih sambil mendorong sepeda bututnya adalah pengingat akan gigihnya perjuangan seorang ibu.

​Semangat Mbah Karmi adalah modal utamanya; ia memilih untuk terus bekerja keras, berjuang melewati dinginnya pagi dan senja yang basah, demi memastikan kebutuhan medis dan dapur anaknya terpenuhi.

​Bagi masyarakat Tulungagung, khususnya di sekitar Kedungwaru, Ngantru, dan Pasar Ngemplak, kisah Mbah Karmi adalah panggilan hati. Kehadirannya di jalanan adalah pengingat akan kerasnya hidup. Mampir sebentar untuk membeli dagangan Mbah Karmi bukan hanya tentang mendapatkan jajanan pasar, tetapi juga memberikan dukungan nyata dan uluran tangan untuk meringankan beban ekonomi pejuang senja dari Gendingan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *