TRENGGGALEK, AJTTV COM – Di tengah deru kendaraan modern dan layar-layar aplikasi transportasi daring di Trenggalek, Jawa Timur, masih ada suara pelan dari roda besi yang terus berputar. Suara itu datang dari becak—dan dari mereka yang masih setia mengayuhnya.
Sugeng, 58 tahun, adalah satu dari segelintir tukang becak yang masih bertahan di Trenggalek. Ia telah mengayuh becak sejak 1990, saat kendaraan ini masih menjadi pilihan utama masyarakat. Namun, kini Sugeng hanya mampu menarik penumpang dua hingga tiga kali dalam sepekan.
“Becak pertamanya dibeli seharga Rp170 ribu. Kini, di tengah bayang-bayang ojek online dan angkutan pribadi, mencari penumpang menjadi semakin sulit,” kata Sugeng, Kamis (5/6/2025).
Di pangkalan yang dulu ramai, kini hanya tersisa sekitar 15 tukang becak. Mereka bukan sekadar pengayuh becak, tetapi penjaga jejak kota dan penutur bisu masa lalu yang berhadapan langsung dengan arus perubahan zaman.
Mbah Cuk Suhadi, 81 tahun, adalah salah satu contoh. Ia masih mengayuh becak dengan semangat, meskipun kadang pulang tanpa penumpang. Ia kerap mendapat sarapan, amplop sedekah, atau sekadar sapaan hangat yang menguatkan hatinya.
Sementara itu, Miselan (55) warga Dukuhan Bagong, Desa Ngantru, baru lima tahun terakhir mengayuh becak setelah tak lagi mampu bekerja sebagai kuli bangunan. Ia menjalaninya dengan ikhlas dan penuh syukur, berharap kesehatan dan rezeki tetap mengalir bagi keluarganya.
Di balik roda becak yang berderit, terselip doa dan harapan: agar hidup tetap layak, agar profesi ini tak benar-benar hilang dari jalanan Trenggalek.
Reporter : Ari temi












