M. Maskur, saksi mata yang juga mencatat perjalanan peristiwa ini sejak Agustus 2002
BLITAR, AJTTV.COM, Selama dua puluh tahun lamanya, keluarga besar Bani Ngarfi di Dusun Banyurib, Desa Sumberingin, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, hidup dalam bayang-bayang misteri yang tak terpecahkan. Rentetan musibah dan kejadian aneh datang silih berganti tanpa penyebab yang jelas, baik ditinjau dari sisi medis maupun logika umum. Jawaban atas kegelisahan itu akhirnya terkuak, tersembunyi di balik rimbunnya hutan tua, pada sebuah makam leluhur yang lama terlupakan.
Kisah pilu ini bermula dari kondisi Imam Hadi, putra pasangan Khoiri dan Aminah. Sejak usia lima tahun, anak ini kerap terserang sakit mendadak dengan gejala yang sulit didiagnosis medis secara pasti. Berbagai upaya pengobatan telah ditempuh, mulai dari layanan kesehatan modern hingga pengobatan alternatif, namun hasilnya nihil.
Penderitaan keluarga tak berhenti di situ. Kakak Imam Hadi, Sunarmi, juga mengalami nasib nahas saat mengalami kecelakaan berat yang nyaris membuat kakinya harus diamputasi. Belum lagi sederet fenomena ganjil lain yang kerap terjadi, mulai dari kedatangan ular weling di sekitar rumah yang tidak bersikap agresif, hingga gangguan psikis berat yang dialami Imam Hadi saat merantau ke Kalimantan hingga harus pulang dalam kondisi depresi mendalam.
Menurut penuturan M. Maskur, saksi mata yang juga mencatat perjalanan peristiwa ini sejak Agustus 2002, keluarga sempat berada di titik kebingungan tertinggi. Hingga akhirnya, petunjuk datang dari arah yang tak terduga namun memiliki isi yang sama persis.
Beberapa tokoh spiritual yang tidak saling mengenal, secara terpisah memberikan pesan identik: keluarga diminta untuk mencari dan berziarah ke makam leluhur mereka.
“Yang membuat kami tertegun, pesan itu datang dari orang yang berbeda-beda, tapi isinya sama persis. Itu bukan kebetulan,” ungkap Maskur ketika ditemui di kediamannya,Kamis (9/4/2026).
Petunjuk kuat itu kemudian mengerucut pada satu nama: Mbah Ngarfi, sosok yang diyakini sebagai cikal bakal pendiri Dusun Banyurib.
Berdasarkan penelusuran silsilah dan keterangan para sesepuh, diketahui bahwa Mbah Ngarfi bukan sosok sembarangan. Beliau dipercaya masih berdarah biru, keturunan ningrat, serta merupakan sosok Aulia atau waliyullah yang memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT.
Titik terang mulai menyala saat Mushaji, paman Imam Hadi, tiba-tiba teringat akan sebuah gundukan tanah tua yang pernah ia lihat di kawasan Hutan Maliran. Dengan rasa harap dan penasaran, rombongan keluarga pun menelusuri hutan tersebut.
Perjalanan menembus hutan terasa berat dan mencekam. Namun, kejadian paling menggetarkan terjadi saat mereka tiba di lokasi. Di tengah kesunyian hutan, mereka didatangi oleh seorang pria tua berjanggut panjang yang secara mengejutkan mengaku sebagai cucu dari Mbah Ngarfi. Sosok itu seakan telah lama menunggu kedatangan mereka.
“Itu bukan halusinasi. Saya mencatat setiap detail yang disampaikan,” tegas Maskur.
Untuk memastikan kebenaran tersebut, rombongan kemudian mendatangi Mbah Kasimah atau yang akrab disapa Ninek, seorang sesepuh yang hafal betul silsilah keluarga. Dari penuturan beliau, terkonfirmasi bahwa makam yang ditemukan itu memang benar milik Mbah Ngarfi, leluhur generasi kesembilan dari garis keturunan Khoiri dan Aminah.
Momen itulah menjadi titik balik. Tabir misteri yang menyelimuti keluarga selama puluhan tahun akhirnya terbuka lebar.
Dalam pandangan keluarga, rangkaian musibah yang terjadi selama dua dekade bukan dilihat sebagai kutukan, melainkan sebuah isyarat halus. Sebuah panggilan agar keturunan kembali mengingat akar sejarah dan menyambung tali silaturahmi yang sempat putus dengan para pendahulu.
Konsep ini selaras dengan nilai birrul walidain dalam Islam, yang tidak hanya dimaknai sebagai bakti kepada orang tua yang masih hidup, tetapi juga penghormatan kepada leluhur yang telah mendahului.
Pasca penemuan makam tersebut, keluarga mengaku merasakan ketenangan batin yang luar biasa dan perubahan kondisi yang signifikan. Sebagai wujud syukur dan penghormatan, dibentuklah panitia pemugaran makam pada 9 Agustus 2002.
Maskur menambahkan, ikatan kekeluargaan ini semakin erat hingga Keluarga Besar Mbah Ngarfi pernah menggelar acara reuni akbar. Momen kebersamaan tersebut menjadi bukti nyata bahwa tali persaudaraan antar keturunan kini telah terjalin kembali dengan kuat.
“Ini tentang sebuah keluarga yang akhirnya menemukan kembali jati dirinya. Mbah Ngarfi adalah cikal bakal dusun ini,” pungkasnya.
Kisah Bani Ngarfi menjadi bukti nyata bagaimana sejarah, ingatan kolektif, dan keyakinan dapat bertemu dalam satu titik, mengajarkan bahwa jawaban atas kegelisahan hidup seringkali tertanam pada akar yang pernah terlupa.
Liputan : Hariyanto Wijoyo
Jurnalis Senior SKW Utama BNSP dan
Penulis Terbaik Cerita Misteri Event Nasional Babad Bumi 2025












