Operasi Pencarian Nelayan Trenggalek/ Istimewa
WONOGIRI, AJTTV.COM – Ikhtiar maksimal tim SAR gabungan dalam mencari Jumali (50), nelayan asal Kabupaten Trenggalek yang hilang di perairan selatan Wonogiri, akhirnya menemui titik akhir. Setelah tujuh hari penyisiran tanpa hasil, operasi pencarian secara resmi dinyatakan ditutup pada Senin (09/03/2026).
Keputusan pahit ini diambil sesuai prosedur tetap (SOP) pencarian dan penyelamatan. Meski seluruh sumber daya telah dikerahkan, keberadaan korban masih menjadi misteri di balik ganasnya ombak samudera selatan.
Penyisiran Lintas Provinsi
Kepala Pelaksana BPBD Wonogiri, Fuad Wahyu Pratama, mengonfirmasi bahwa penutupan operasi dilakukan setelah tim gabungan menyisir area yang sangat luas. Pemantauan tidak hanya dilakukan di titik jatuhnya korban, tetapi meluas hingga garis pantai Pacitan (Jawa Timur) dan Gunungkidul (DIY).
”Pencarian sudah maksimal selama sepekan menggunakan perahu dan pemantauan darat di sepanjang pesisir. Namun hingga hari ketujuh, tidak ada tanda-tanda keberadaan korban,” ujar Fuad, Selasa.
Kronologi Malam Kelabu
Tragedi ini bermula pada Kamis (26/02/2026) malam, saat Jumali berangkat melaut dari Pantai Watukarung, Pacitan, menggunakan kapal Manis Rizky 59. Targetnya adalah berburu lobster di perairan selatan yang dikenal kaya namun berisiko tinggi.
Saksi mata dari kapal rekan korban sempat melihat lampu kapal Jumali masih menyala sekitar pukul 21.00 WIB. Namun, hanya berselang satu setengah jam, cahaya tersebut lenyap ditelan kegelapan malam. Kecurigaan rekan sesama nelayan terbukti benar saat keesokan harinya, kapal milik korban ditemukan terbalik tanpa awak di kawasan Pantai Watumandi, Paranggupito, Wonogiri.
Samudera Selatan yang Tak Terprediksi
Hilangnya Jumali menambah daftar panjang risiko bertaruh nyawa para pencari nafkah di laut selatan. Kondisi perairan yang ekstrem dan tebing karang yang curam di wilayah Paranggupito menjadi tantangan berat bagi tim SAR selama proses pencarian.
Meski operasi resmi ditutup, koordinasi dengan jaringan nelayan di sepanjang pesisir Jawa Timur hingga Yogyakarta tetap dijaga. Jika sewaktu-waktu ditemukan tanda-tanda keberadaan korban, operasi dapat dibuka kembali secara situasional.












