TRENGGALEK, AJTTV.COM – Ada pemandangan berbeda di salah satu SMP Negeri di Trenggalek pada Jumat (23/1/2026). Personel Satlantas Polres Trenggalek tampak menyisir area parkir siswa, bukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk mengukur sejauh mana risiko maut mengintai para pelajar yang nekat berkendara ke sekolah.
Langkah ini diambil menyusul data memilukan: Sepanjang tahun 2025, angka kecelakaan di Trenggalek menembus 562 kasus, di mana mayoritas korban dan pelakunya adalah remaja usia 15-19 tahun.
Temuan di Lapangan: Knalpot Brong hingga Absennya Helm
Dalam inspeksi mendadak namun humanis tersebut, petugas menemukan fakta lapangan yang mengkhawatirkan. Banyak kendaraan pelajar dimodifikasi tidak sesuai standar (spektek), mulai dari penggunaan knalpot brong yang bising, hilangnya kaca spion, hingga ketiadaan helm sebagai pelindung kepala.
Pendekatan Dari Hati: “Mereka Adalah Anak Kita”
Alih-alih mengeluarkan surat tilang, Kasatlantas Polres Trenggalek, AKP Sony Suhartanto, memilih pendekatan pembinaan personal. Siswa yang kedapatan melanggar dikumpulkan untuk diajak berdialog secara kekeluargaan.
“Mereka adalah generasi masa depan yang harus kita lindungi. Kami tidak memberikan tilang, tapi teguran humanis. Kami ingin mereka paham bahwa aturan dibuat bukan untuk membatasi, tapi untuk memastikan mereka sampai di rumah dengan selamat,” ujar AKP Sony mewakili Kapolres Trenggalek, AKBP Ridwan Maliki.
Panggilan untuk Kolaborasi Massal
Tingginya angka 5.150 pelanggaran lalu lintas sepanjang tahun lalu menjadi sinyal darurat bagi seluruh elemen masyarakat Trenggalek. Polisi menegaskan bahwa keselamatan jalan raya bukan hanya tanggung jawab korps sabuk putih.
”Semua harus turun tangan. Lingkungan keluarga, sekolah, dan tokoh masyarakat harus bahu-membahu. Jangan biarkan anak-anak kita mengubur mimpi dan masa depan mereka hanya karena kelalaian di jalan raya,” pungkasnya.
Analisis Singkat: Mengapa Pelajar Rentan?
Secara psikologis, remaja usia sekolah menengah berada pada fase pencarian jati diri yang seringkali diwujudkan melalui perilaku berisiko di jalanan. Tanpa kepemilikan SIM dan kematangan emosional, kendaraan bermotor bisa menjadi “senjata” yang mengancam nyawa mereka sendiri.












