Scroll untuk baca artikel
BERITA TERBARUKABAR DAERAH

Satu Tahun Menanti, Jembatan Junjung Tulungagung Akhirnya Masuk Meja Rekonstruksi

9
×

Satu Tahun Menanti, Jembatan Junjung Tulungagung Akhirnya Masuk Meja Rekonstruksi

Sebarkan artikel ini

Bupati Tulungagung Gatut Sunu sidak jembatan Junjung Tulungagung/ ist

TULUNGAGUNG, AJTTV.COM – Penantian panjang warga Kecamatan Sumbergempol segera berakhir. Setelah setahun lebih terisolasi akibat amblesnya fondasi Jembatan Junjung, Pemerintah Kabupaten Tulungagung resmi mengumumkan bahwa pembangunan ulang jembatan tersebut akan dimulai pada awal Maret 2026.

​Proyek senilai Rp 7,5 miliar ini bukan sekadar tambal sulam. Pemkab merencanakan rekonstruksi total dengan dimensi panjang 30 meter dan lebar 7 meter. Langkah ini diambil menyusul kerusakan parah yang dipicu banjir bandang pada Desember 2024 silam.

Pengawasan Publik Jadi Kunci

​Ada yang menarik dalam komitmen pembangunan kali ini. Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, secara terbuka meminta masyarakat untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi “pengawas lapangan”.

​“Semua harus mengawasi sampai pembangunan selesai. Proyek ini harus dikerjakan secara profesional dan berkualitas,” tegas Gatut Sunu, dikonfirmasi ajttv.com Rabu (18/02).

Target Rampung dalam 7 Bulan

​Bupati Gatut Sunu menjelaskam Dinas PUPR Tulungagung, tengah mengebut proses administrasi. Targetnya, seluruh urusan teknis rampung sebelum Hari Raya agar pengerjaan fisik tidak terhambat.

​Gatut Sunu  juga menekankan pentingnya audit teknis konstruksi. Desain baru jembatan ini diklaim akan lebih tangguh menghadapi anomali cuaca, antara lain Perhitungan ulang debit banjir maksimum, Penerapan sistem pengaman fondasi yang lebih dalam dan Metode konstruksi standar ketahanan jangka panjang.

Harapan Solusi Permanen

​Kepala Desa Junjung, Hari Santosa, menyambut baik kabar ini. Baginya, jembatan ini adalah urat nadi ekonomi desa. Ia berharap pembangunan kali ini menjadi solusi permanen, mengingat selama setahun terakhir warga terpaksa memutar jauh demi mobilitas harian.

​“Ini bukan hanya soal menyambung jalan yang putus, tapi momentum pembenahan tata kelola infrastruktur di desa kami,” ujar Hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *