Rumah warga tertimpa pohon saat angin puting beliung/ ist
TULUNGAGUNG, AJTTV.COM – Langit Kecamatan Sumbergempol mendadak kelabu saat bencana angin puting beliung disertai hujan deras mengamuk pada Sabtu siang (07/02/2026). Satu tempat ibadah dikabarkan mengalami kerusakan serius setelah angin kencang menyapu wilayah tersebut secara tiba-tiba sekitar pukul 14.30 WIB.
Tiga Desa Menjadi “Sasaran” Angin Selatan
Angin yang berhembus kencang dari arah selatan ke utara ini meluluhlantakkan tiga desa sekaligus, yakni Desa Trenceng, Desa Bendilwungu, dan Desa Sambijajar. Kecepatan angin yang luar biasa membuat puluhan atap rumah warga berhamburan, kandang ternak roboh, hingga pohon-pohon besar tumbang seketika.
Berdasarkan pantauan di lokasi, pemandangan memilukan terlihat dari deretan rumah warga yang kini tak lagi beratap. Kerusakan mayoritas terjadi pada bagian atap yang terlepas akibat terjangan angin, serta beberapa titik lokasi di mana pohon tumbang menimpa bangunan dan menutup akses jalan utama.
Bahu Membahu di Tengah Puing-Puing
Merespons situasi darurat tersebut, personel gabungan dari Polsek Sumbergempol, Samapta Polres Tulungagung, Koramil, hingga BPBD Kabupaten Tulungagung langsung “terjun payung” ke lokasi kejadian.
Bersama warga setempat, aparat berjibaku melakukan evakuasi pohon tumbang yang menghalangi jalan dan membersihkan material atap yang berserakan. Petugas juga memprioritaskan evakuasi pada rumah-rumah yang tertimpa pohon guna menghindari bahaya lanjutan bagi penghuninya.
Kapolsek: Waspada Cuaca Ekstrem!
Kapolsek Sumbergempol, AKP Moh. Anshori, menegaskan bahwa fokus utama tim gabungan saat ini adalah memastikan keselamatan warga dan mempercepat pembersihan material agar aktivitas ekonomi masyarakat kembali normal.
“Kami bergerak cepat bersama seluruh unsur terkait. Beruntung, hingga saat ini tidak dilaporkan adanya korban jiwa dalam musibah ini. Namun, kami sangat mengimbau masyarakat untuk tetap waspada karena potensi cuaca ekstrem masih bisa terjadi kapan saja,” tegas AKP Moh. Anshori, Minggu (8/2/2026).
Warga terus bergotong-royong memperbaiki kerusakan ringan secara mandiri sembari menunggu pendataan lebih lanjut dari pihak terkait untuk bantuan perbaikan bangunan yang rusak berat












