TRENGGALEK, AJTTV.COM — Guyuran hujan ringan yang menyirami wilayah Kabupaten Trenggalek dalam beberapa hari terakhir ternyata bukan sekadar fenomena cuaca alami biasa. Hujan tersebut merupakan bagian dari skenario Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang digencarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di wilayah Jawa Timur.
Langkah strategis ini ditempuh pemerintah guna menggempur dua ancaman sekaligus: meminimalisasi risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta mengatasi krisis kekeringan yang meluas di sejumlah daerah.
Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, mengonfirmasi bahwa arahan operasi hujan buatan ini diinstruksikan langsung saat kunjungan kerja Kepala BNPB di Jawa Timur yang dihadiri para kepala BPBD serta kepala daerah se-Jawa Timur.
”Operasi ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan serta membantu wilayah yang mengalami kekeringan,” ujar Triadi saat dikonfirmasi.
Tabur 1 Ton Garam Setiap Hari dari Udara
Misi pemancing awan ini tidak main-main. Misi OMC di Jawa Timur dijadwalkan berlangsung intensif hingga 29 Oktober 2026, menyisir wilayah udara dari Malang hingga Situbondo.
Dalam setiap penerbangan harian, armada pesawat khusus menyemaikan sedikitnya 1.000 kilogram (1 ton) Natrium Klorida (garam dapur) di atas awan-awan potensial.
Aksi perdana telah diluncurkan sejak Sabtu (24/10/2026) menggunakan pesawat Cessna Caravan. Selama dua jam penuh (pukul 14.45 – 16.45 WIB), armada tersebut menyisir dan menyemai awan di zona udara Probolinggo, Pasuruan, dan sekitarnya.
Kendati hujan di Trenggalek terindikasi kuat sebagai imbas penyemaian tersebut, Triadi menyebutkan secara teknis dampak langsungnya masih terus dipantau.
”Meskipun hujan yang terjadi di Trenggalek kemungkinan besar berkaitan dengan operasi ini, namun secara teknis belum dapat dipastikan sepenuhnya sebagai dampak langsung,” terangnya.
Presisi Tinggi: Berbasis Analisis Meteorologi
Pemerintah menegaskan bahwa operasi modifikasi cuaca ini dilakukan dengan tingkat presisi tinggi dan perhitungan matang. Berdasarkan penjelasan Kementerian Kehutanan, eksekusi OMC selalu mengacu pada analisis meteorologi ketat—mencakup pantauan pertumbuhan awan, sebaran titik api (hotspot), hingga kondisi geografis target.
Sebelumnya, teknologi modifikasi cuaca ini juga terbukti ampuh membantu pemadaman Karhutla di kawasan strategis seperti Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan Gunung Arjuno.
”Diharapkan dengan adanya hujan ini, setidaknya dapat mengurangi potensi kebakaran hutan dan lahan, sekaligus sedikit meredakan kekeringan yang dirasakan masyarakat,” pungkas Triadi.






