Scroll untuk baca artikel
BERITA TERBARUKABAR DAERAH

TRADISI MINTA HUJAN, PLT BUPATI TULUNGAGUNG AJAK MASYARAKAT LESTARIKAN SENI TIBAN TANPA DENDAM

47
×

TRADISI MINTA HUJAN, PLT BUPATI TULUNGAGUNG AJAK MASYARAKAT LESTARIKAN SENI TIBAN TANPA DENDAM

Sebarkan artikel ini
foto : Plt Bupati Tulungagung H. Ahmad Baharudin, S.M., M.M., anggota DPRD Provinsi Jatim Guntur Wahono, SE, anggota DPRD Kabupaten Tulungagung Drs. Subani Sirab, Kepala Dinas Pariwisata, serta jajaran Forkopimcam Bandung hadiri pentas kesenian tradisional Tiban "Joyo Kusumo"

TULUNGAGUNG, AJTTV.COM – Ratusan warga memadati Lapangan Desa Gandong, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung pada Minggu (28/06/2026) siang. Kehadiran massa ini untuk menyaksikan langsung kemeriahan pentas kesenian tradisional Tiban “Joyo Kusumo” yang digelar dalam rangka menyambut musim tanam sekaligus ritual meminta hujan di musim kemarau.

​Agenda budaya yang berlangsung dinamis ini turut dihadiri langsung oleh Plt Bupati Tulungagung H. Ahmad Baharudin, S.M., M.M., anggota DPRD Provinsi Jatim Guntur Wahono, SE, anggota DPRD Kabupaten Tulungagung Drs. Subani Sirab, Kepala Dinas Pariwisata, serta jajaran Forkopimcam Bandung.

BACA JUGA : Aksi Bersih-Bersih TPU Setono Serut Kelurahan Kauman, Bukti Kemanunggalan TNI-Rakyat di Kabupaten Tulungagung

​Dalam sambutannya, Plt Bupati Tulungagung, H. Ahmad Baharudin menekankan pentingnya menjaga warisan leluhur agar tidak punah digerus zaman. Kesenian Tiban, menurutnya, merupakan identitas kultural asli yang sarat akan nilai sejarah.

​”Tradisi Tiban adalah peninggalan leluhur asli Tulungagung yang harus dijaga dari generasi ke generasi. Kita wajib menguri-uri budaya ini,” ujar Ahmad Baharudin di hadapan ratusan pasang mata yang hadir, Minggu (28/06/2026).

​Lebih lanjut, ia mengingatkan agar ketangkasan cambuk dalam arena Tiban tidak disalahartikan sebagai ajang permusuhan. Sebaliknya, momentum ini harus menjadi perekat hubungan antarwarga.

​”Kegiatan seni bukan sekadar ajang adu kekuatan, melainkan sarana memperkuat solidaritas dan persaudaraan. Karena Tiban adalah seni pertarungan ketangkasan cambuk, pesan pentingnya adalah harus sportif. Tidak boleh ada rasa dendam atau permusuhan setelah permainan selesai,” tegasnya sebelum meninggalkan lokasi.

BACA JUGA : Mahasiswi UIN Tulungagung Ditemukan Meninggal di Kamar Kos

​Sedot Antusiasme Peserta Lintas Daerah

​Agenda tahunan yang digelar selama dua hari (Sabtu-Minggu) ini tidak hanya memikat warga lokal, melainkan juga menjadi magnet bagi para pecinta seni ketangkasan dari luar daerah. Terbukti, para jawara cambuk dari Kabupaten Trenggalek dan Blitar turut turun ke gelanggang untuk meramaikan acara.

​Selain sebagai tontonan yang menghibur, ritual Tiban di Desa Gandong ini secara turun-temurun diyakini para petani setempat sebagai sarana spiritual memohon berkah hujan demi kelancaran masa tanam di tengah cuaca kemarau.

​Pengamanan Ketat, Kondisi Kondusif Tanpa Gesekan

​Mengantisipasi adanya potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), jajaran Polsek Bandung menerjunkan personel gabungan dengan pengamanan berlapis.

BACA JUGA : Haru dan Bahagia! 41 Jemaah Haji KBIHU Al Mukarromah Tiba di Bandung Tulungagung dengan Selamat

​Kapolsek Bandung, AKP Dion Fitrianto, S.H., M.H., selaku Perwira Pengendali (Padal) Wilayah, mengonfirmasi bahwa jalannya acara dari pukul 12.00 WIB hingga selesai pada pukul 16.00 WIB berlangsung sangat tertib. Pihaknya juga memastikan tidak ada infiltrasi dari kelompok atau komunitas luar yang berpotensi memicu gesekan.

​”Kami telah melakukan langkah antisipasi maksimal. Pengamanan di lapangan dipimpin oleh saya sendiri bersama Iptu Muhtar selaku Padal PAM dan dibantu oleh jajaran Linmas. Selama dua hari pelaksanaan, tidak ditemukan penonton dari kelompok perguruan pencak silat maupun komunitas pencak,” jelas AKP Dion Fitrianto.

​Berkat komitmen bersama antara panitia, penonton, dan kesigapan petugas di lapangan, pentas seni Tiban Joyo Kusumo sukses digelar dengan aman, tertib, dan kondusif.