PALU, AJTTV.COM – Delapan tahun lalu, Kelurahan Petobo bergolak. Tanah berputar, menelan apa saja di atasnya dalam tragedi likuifaksi Palu 2018. Namun hari ini, Senin (22/6/2026), di atas puing-puing trauma itu, sebuah peradaban baru justru tumbuh subur dan melahirkan para penghafal Al-Qur’an.
Bukan sekadar kompleks hunian biasa, tempat ini bernama Kampung Peradaban LMI. Berdiri kokoh di Jl. Kebun Sari, Kecamatan Palu Selatan, kampung ini adalah simbol perlawanan terhadap putus asa.
BACA JUGA : Demi menjaga hubungan Lebih Dekat dengan Petani Kanit Binmas Polsek Gondang terjun ke lapangan
Bukan Rumah Komersil, Ini Rumah para Pendidik
Kompleks ini lahir dari kolaborasi epik antara Laznas LMI, Yayasan Islam Al-Fahmi, dan JSIT Sulawesi Tengah. Sejak diresmikan April 2019, kampung ini didedikasikan khusus untuk satu profesi mulia: para guru yang kehilangan segalanya saat bencana.
”Kampung ini khusus diperuntukkan bagi guru-guru yang rumahnya terdampak gempa dan likuifaksi Palu delapan tahun lalu,” ujar Susanto, perwakilan Humanitarian Program Laznas LMI.
BACA JUGA : Warga Ancam Blokade Total Waduk Wonorejo, Kepala Bappeda Tulungagung Siap Pertaruhkan Jabatan!
Dua Senjata Utama: Al-Qur’an dan Bahasa Inggris
Jika kampung lain sibuk dengan modernisasi digital yang individualis, Kampung Peradaban justru melawan arus. Di bawah komando Ustadz Mahmud Yunus selaku penanggung jawab, kampung ini disulap menjadi pabrik pencetak generasi tangguh.
Ada dua misi besar yang digodok di sini setiap hari yakni Mencetak Hafiz/Hafizah dimana Anak-anak dididik menjadi penjaga kalamullah serta Menguasai Bahasa Inggris. Bukan untuk gaya-gayaan, melainkan sebagai alat dakwah dan pendidikan di kancah internasional.
”Puasa” Gadget & Aturan Satu Televisi
Ada satu fakta unik yang membuat kampung ini sangat berbeda di era gen-Z saat ini. Demi menjaga kewarasan sosial dan mempererat silaturahmi, warga berkomitmen menjaga kesederhanaan secara ekstrem.
Setiap rumah dibatasi hanya boleh memiliki maksimal 1 televisi.
Hasilnya? Ruang tamu tidak sepi. Sore hari tidak dihabiskan dengan menatap layar gadget masing-masing. Warga memilih keluar rumah, mengaji bersama, mengobrol di teras, dan saling menguatkan. Gotong royong bukan lagi slogan, tapi gaya hidup harian.
Fase Pemulihan Pasca-Bencana
Hingga Juni 2026, Kampung Peradaban Palu membuktikan bahwa pemulihan pasca-bencana terbaik bukanlah bantuan logistik yang habis dalam seminggu, melainkan pembangunan karakter dan pendidikan berkelanjutan.
BACA JUGA : Garapan Rampung! JLS Tulungagung Kini Tersambung Penuh, Siap Manjakan Pencinta Road Trip
Rumah-rumah di sini terawat rapi, diselimuti lantunan ayat suci yang menggema setiap subuh dan magrib.
”Semoga Kampung Peradaban Palu terus jadi oase ilmu dan teladan pemulihan pasca bencana,” pungkas Susanto penuh harap.
Dari Petobo kita belajar: bencana boleh meruntuhkan bangunan, tapi tidak iman dan masa depan.






