PENYALURAN AIR BERSIH: Petugas BPBD Trenggalek mendistribusikan bantuan air bersih langsung ke wadah penampungan milik warga terdampak kekeringan di Kabupaten Trenggalek, Selasa (6/10/2026). (Foto: BPBD Trenggalek)
TRENGGALEK, AJTTV.COM – Dampak kemarau panjang yang memicu krisis air bersih di Kabupaten Trenggalek kian mengkhawatirkan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek mencatat, sebanyak 60 desa kini resmi melaporkan terdampak kekeringan, Selasa (06/10/2026).
Guna meringankan beban masyarakat, BPBD Trenggalek bergerak cepat menyalurkan bantuan air bersih secara masif ke titik-titik krisis.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, mengungkapkan bahwa dari total 60 desa yang terdampak, sebanyak 55 desa telah mendapatkan penanganan berupa suplai air bersih secara berkala. Sementara lima desa sisanya masih mengandalkan sumber air lokal yang debitnya terus menyusut.
”Sebagaimana update data terbaru, ada 60 desa yang melaporkan terdampak. Kami sudah menyalurkan bantuan air bersih ke 55 desa berdasarkan hasil asesmen di lapangan,” ujar Triadi saat hadir sebagai narasumber di Radio BOSS FM, Selasa (06/10/2026).
Hingga saat ini, akumulasi bantuan air bersih yang telah digelontorkan oleh BPBD Trenggalek telah menembus angka lebih dari 3 juta liter.
Kendala Akses Jalur Sempit di Ngrencak Panggul
Dalam proses pendistribusiannya, petugas lapangan kerap dihadapkan pada medan geografis yang ekstrem. Kecamatan Panggul menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kekeringan terparah, di mana akses jalan yang sempit menjadi tantangan utama truk tangki air.
Baca Juga: Mobil Mantan Direktur RSUD dr. Iskak Terperosok ke Parit di Kauman, Damkar Tulungagung Turun Tangan
Salah satu titik tersulit berada di Desa Ngrencak, Kecamatan Panggul. Karena ukuran armada tangki yang besar tidak mampu menjangkau pemukiman warga di pelosok, petugas terpaksa menerapkan sistem melangsir air menggunakan wadah portabel.
”Lokasi paling menantang ada di Desa Ngrencak. Akses jalannya sangat sempit sehingga truk tangki tidak bisa masuk ke beberapa dusun. Solusinya, air harus dilangsir menggunakan sarana penampung lain agar tetap sampai ke tangan warga,” jelas Triadi.
Bantuan Tandon dan Potensi Hujan ‘Pembasah’ BMKG
Tak hanya menyuplai air, BPBD Trenggalek bersama dukungan BPBD Provinsi Jawa Timur juga menyalurkan bantuan sarana penampungan air seperti tandon, terpal, dan jeriken. Penyaluran bantuan fisik ini disesuaikan dengan proposal usulan dan jumlah Kepala Keluarga (KK) yang terdampak di tiap desa.
Mengenai dinamika cuaca, Triadi menyebut perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengindikasikan adanya potensi presipitasi atau hujan dalam tiga hingga empat hari ke depan.
Baca Juga: JLS Brumbun–Sine Marak Balap Liar, Satlantas Polres Tulungagung Siapkan Tindakan Tegas
Kendati demikian, hujan yang berpeluang turun tersebut diprediksi belum mampu memulihkan debit sumber air secara signifikan karena sifatnya yang hanya membasahi permukaan tanah.
”Sisa dari fenomena El Nino masih terasa. Perkiraan BMKG ada potensi hujan dalam beberapa hari ke depan, namun sifatnya baru sebatas membasahi. Oleh karena itu, operasi distribusi air bersih akan terus kami lanjutkan sampai sumber air warga benar-benar pulih,” tegasnya.






