Suasana Jembatan Ngujang 2 Tulungagung ( Andika ajttv.com)
TULUNGAGUNG, AJTTV.COM — Tradisi flushing atau yang lebih akrab dikenal warga lokal sebagai “pladu” kembali membawa keseruan di sepanjang aliran Sungai Brantas. Ratusan masyarakat tampak menyemut di kawasan Jembatan Ngujang 2, Desa Bukur, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, untuk berburu ikan mabuk alias gogo ikan.
Sejak sore hingga menjelang malam, tepian sungai terpanjang kedua di Jawa Timur ini dipadati oleh warga yang datang dari berbagai penjuru kecamatan. Mereka datang membawa berbagai alat tangkap sederhana, mulai dari jaring, serok, hingga tangan kosong untuk menangkap ikan yang menepi akibat perubahan debit air sungai.
Momen tahunan ini tidak hanya menjadi ladang berburu lauk gratis, tetapi juga menjelma menjadi tontonan dan hiburan rakyat yang dinantikan.
Jadi Ajang Silaturahmi dan Hiburan Murah Meriah
Fenomena pladu ini terjadi saat ada penggelontoran air (flushing) dari bendungan hulu, yang menyebabkan kondisi air sungai menjadi keruh dan membuat ikan-ikan air tawar seperti nila, bader, hingga jendil mabuk dan muncul ke permukaan.
Salah seorang warga Desa Rejoagung, Kecamatan Kedungwaru, Budi, mengaku sengaja datang ke kawasan Jembatan Ngujang 2 bersama kerabatnya. Bagi Budi, pladu bukan sekadar urusan mendapat ikan banyak atau sedikit, melainkan nilai hiburan dan kebersamaannya.
”Ini sudah jadi tradisi tahunan yang ditunggu-tunggu warga bantaran Brantas. Suasananya ramai sekali, bisa buat hiburan sore yang murah meriah sekaligus ajang kumpul-kumpul atau silaturahmi dengan warga lainnya,” ujar Budi saat ditemui di lokasi, Ssnin
Pedagang Kaki Lima Ikut Ketiban Berkah
Ramainya warga yang memadati bantaran Sungai Brantas di sekitar Jembatan Ngujang 2 ini membawa berkah tersendiri bagi perekonomian lokal. Suasana sore di lokasi tersebut berubah layaknya pasar malam dadakan dengan hadirnya deretan pedagang kaki lima (PKL).
Mulai dari pedagang camilan, es, hingga mainan anak-anak tampak laris manis diserbu pengunjung. Banyak warga yang datang memang tidak berniat turun ke sungai untuk mencari ikan, melainkan hanya ingin menikmati suasana sore, melihat keseruan warga yang berburu ikan, sambil bercengkerama bersama keluarga.
Tradisi pladu terbukti selalu sukses menyedot animo masyarakat Tulungagung. Selain melestarikan aktivitas komunal warisan leluhur di sepanjang bantaran sungai, momen ini menjadi bukti bagaimana fenomena alam mampu menggerakkan roda ekonomi kecil dan menghadirkan kebahagiaan sederhana bagi warga sekitar.












