Wahyudi saat menari Remong di acara Reuni SMKI dan SMSR Surabaya / Foto : Doc. Anang Fatoni
SURABAYA, AJTTV.COM – Aula SMK Negeri 12 Surabaya menjadi saksi bisu sebuah momen emosional yang menguras air mata pada Minggu, 26 April 2026 lalu. Dalam gelaran Reuni Akbar dan Halal Bihalal Alumni SMKI dan SMSR Surabaya, sebuah penampilan tari tidak hanya menyuguhkan keindahan gerak, tetapi juga curahan kalbu seorang maestro yang telah melanglang buana.
Wahyudi, alumnus SMKI Negeri Surabaya angkatan 1990, berdiri di atas panggung yang puluhan tahun lalu menjadi tempatnya menimba ilmu. Namun, suasana kali ini berbeda. Meski ia telah menaklukkan panggung-panggung megah di berbagai belahan dunia, menari di hadapan para guru dan rekan seperjuangan ternyata memberikan getaran yang tak tertandingi.
Duta Seni yang Merindukan “Rumah”
Perjalanan karier Wahyudi adalah potret kegigihan seorang seniman. Usai lulus tahun 1990, ia merantau ke ibu kota dan mendedikasikan dirinya mengajar di Anjungan Jawa Timur TMII. Bakatnya membawa Wahyudi menjadi duta seni Indonesia, menginjakkan kaki di panggung internasional mulai dari Turki, Spanyol, Meksiko, Jepang, Korea, Cjina, Singapura, hingga Malaysia.
Kini, meski tercatat sebagai karyawan di Anjungan Kalimantan Tengah TMII, dedikasinya terhadap seni tari tak pernah luntur. Namun, bagi Wahyudi, seluruh tepuk tangan di berbagai negara itu seolah bermuara pada satu titik: panggung reuni di Surabaya ini.
Tangis Haru di Hadapan Sang Guru
Usai menyajikan tarian dengan penuh penghayatan, pertahanan diri Wahyudi runtuh. Air mata mengalir deras di pipinya, membasahi riasan panggung yang masih melekat. Di hadapan para guru yang kini telah sepuh dan teman-teman masa sekolahnya, ia tak kuasa membendung rasa bangga sekaligus haru.
”Saya sudah keliling dunia untuk menari, tapi menari di depan guru-guru dan teman-teman sekolah rasanya sangat istimewa. Ada beban sekaligus kebahagiaan yang sulit dijelaskan,” ungkap Wahyudi lirih dengan suara terbata kepada ajttv.com, Jumat (8/5/2026).
Dalam batinnya, Wahyudi berbisik penuh syukur: “Akhirnya, aku bisa menampilkan yang terbaik di hadapan almamaterku.” Ia seolah ingin menunjukkan bahwa didikan keras dan kasih sayang para guru puluhan tahun silam telah berhasil membentuknya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi bangsa.
Momen Refleksi Bagi Alumni
Kehadiran Wahyudi dan ungkapan hatinya yang tulus menjadi puncak emosional dalam acara Halal Bihalal tersebut. Para alumni yang hadir tidak hanya melihat sebuah pertunjukan, tetapi juga menyaksikan sebuah pengabdian.
Momen ini menjadi pengingat bagi seluruh lintas angkatan SMKI dan SMSR Surabaya bahwa sejauh mana pun burung terbang, ia akan selalu ingat jalan pulang. Tangis Wahyudi hari itu adalah simbol cinta yang tak lekang oleh waktu kepada almamater yang telah membesarkannya.












