SULAWESI TENGAH, AJTTV.COM – Malam itu, Selasa, 16 Juni, langit Sigi seolah runtuh. Gempa berkekuatan Magnitudo 6,7 mengguncang hebat, meluluhlantakkan rumah-rumah dan memutus akses jalan. Di tengah kepanikan massal dan ancaman gempa susulan yang terus mengintai, sebuah drama hidup dan mati justru baru saja dimulai di dalam sebuah tenda darurat yang pengap.
Di Desa Kamarora B, Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi, seorang ibu bernama Arciana harus berhadapan dengan takdir ekstrem. Bukan di kasur empuk rumah sakit dengan peralatan medis lengkap, ia terpaksa bertaruh nyawa melahirkan anak ketiganya di atas tikar tipis pengungsian.
BACA JUGA : Warga Ancam Blokade Total Waduk Wonorejo, Kepala Bappeda Tulungagung Siap Pertaruhkan Jabatan!
Akses Terputus, Dukun Beranak Jadi Juru Selamat
Situasi malam itu benar-benar mencekam. Jalanan menuju rumah sakit lumpuh total akibat longsoran material gempa. Menunggu ambulans adalah hal yang mustahil.
Dalam kondisi darurat dan desakan kontraksi yang kian hebat, gotong royong tingkat tinggi pun terjadi. Tanpa bidan, tanpa dokter. Proses persalinan Arciana akhirnya dipimpin oleh seorang dukun beranak tradisional, dibantu oleh orang tua, keluarga besar, serta warga pengungsian yang saling bahu-membahu menahan dinding tenda agar tidak roboh akibat guncangan susulan.
Ketegangan memuncak selama berjam-jam. Di luar tenda bumi masih bergoyang, di dalam tenda, doa-doa histeris terus dipanjatkan.
BACA JUGA : Menolak Mati di Atas Tanah Likuifaksi: Kisah “Kampung Surga” para Guru Korban Gempa Palu
Lahir dari Rahim Bencana: Selamat Datang, Efger!
Keajaiban itu akhirnya tiba. Suara tangis bayi laki-laki memecah kesunyian malam yang mencekam. Bayi mungil itu lahir dengan selamat dan sehat, sebuah kemenangan besar melawan keterbatasan bencana.
Sebagai pengingat abadi atas malam yang menegangkan itu, sang bayi diberi nama Efger (atau Efker)—sebuah nama yang diambil dari kata “Gempa”.
”Kami sangat bersyukur. Berkat gotong royong luar biasa dari warga di pengungsian, cucu saya bisa lahir selamat dan sehat walafiat,” ungkap Muis, mertua Arciana, dengan mata berkaca-kaca, Ahad (21/6/2026).
Fase Bantuan di Tengah Debu Reruntuhan
Pasca-persalinan, perjuangan belum usai. Tenda darurat yang mereka tempati dipenuhi debu pekat dari sisa-sisa material rumah yang runtuh, mengancam pernapasan bayi Efger yang baru lahir.
Beruntung, tim kemanusiaan dari Laznas LMI (Lembaga Manajemen Infaq) bergerak cepat menembus isolasi wilayah. LMI langsung turun tangan membersihkan sisa material runtuhan di sekitar tenda agar lingkungan lebih steril untuk sang bayi, sekaligus menyalurkan bantuan krusial.
BACA JUGA : Polsek Pagerwojo, Tulungagung Tingkatkan Patroli Dialogis Antisipasi Kriminalitas
”Terima kasih banyak LMI yang sudah hadir memberikan bantuan sembako, selimut, kebutuhan darurat bayi, serta membersihkan material rumah agar tidak berdebu di tenda yang saat ini kami tempati,” tutup Muis dengan nada haru.
Kisah Efger adalah bukti nyata: di titik paling kelam sebuah bencana, kehidupan baru selalu menemukan jalannya melalui kekuatan gotong royong dan kemanusiaan.






