Foto : Alumni SMSR Negeri Surabaya Angkatan 90 ( dok : Lilik Riyani )
SURABAYA, AJTTV.COM – Kerinduan yang telah lama mengendap di sanubari para alumni SMKI dan SMSR Negeri Surabaya akhirnya menemukan muaranya. Pada Minggu (26/4/2026) mendatang, gedung sekolah yang penuh kenangan itu dipastikan akan kembali “bernyawa” dalam balutan acara Reuni dan Halal Bil Halal yang emosional.
Lebih dari sekadar pertemuan rutin, momen ini menjadi ajang kepulangan bagi mereka yang dulu pernah berbagi mimpi di bawah seragam putih abu-abu. Hingga data terbaru dirilis, setidaknya 165 alumni dari berbagai lintas generasi telah mengonfirmasi kehadiran mereka, siap untuk merajut kembali tali silaturahmi yang sempat renggang oleh waktu dan jarak.
Panggilan Rindu dari Ibu Kota
Ketulusan niat para alumni terlihat jelas dari antusiasme mereka yang kini menetap jauh dari Kota Pahlawan. Salah satunya adalah Wahyudi, alumnus jurusan Tari yang kini berdomisili di Jakarta. Bagi Wahyudi, jarak ratusan kilometer bukanlah penghalang untuk kembali ke “rumah” tempat bakatnya dulu ditempa.
Sebagai wujud bakti dan cintanya pada almamater, Wahyudi dijadwalkan akan mempersembahkan sebuah penampilan spesial: Tari Remong khas Jawa Timur. Langkah kakinya di atas panggung nanti bukan sekadar tarian, melainkan simbol penghormatan terhadap akar budaya yang telah membesarkannya.
Canda dan Tawa Bersama “Suro”
Untuk menghidupkan suasana agar tetap ceria namun tetap akrab, acara ini akan dipandu oleh pelawak sekaligus konten kreator kenamaan, Heri Suryanto, atau yang lebih akrab disapa Suro. Kehadiran Suro diharapkan mampu mencairkan suasana, membawa gelak tawa di tengah haru biru pertemuan para sahabat lama.
”Ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah tentang pulang. Tentang melihat kembali jejak-jejak masa muda dan mensyukuri setiap perjalanan yang telah kita lalui setelah melepas seragam sekolah,” ujar Pakapur salah satu panitia penyelenggara.
Persiapan demi persiapan terus dimatangkan demi menyambut para pejuang seni ini. Bagi mereka, tanggal 26 April nanti bukan sekadar angka di kalender, melainkan sebuah hari di mana sejarah lama akan ditulis kembali dengan tinta persaudaraan yang lebih kental.












