JAKARTA, AJTTV.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren negatif hingga mencapai titik terendah dalam sejarah. Pada perdagangan Selasa (12/5/2026), mata uang Garuda resmi menembus level psikologis baru di angka Rp 17.500 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg di pasar spot, rupiah terpantau melemah 98 poin atau sebesar 0,56% ke level Rp 17.512 per dolar AS. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif sejak pembukaan pasar pagi tadi yang dibuka melandai ke posisi Rp 17.489.
Penyebab Utama: Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran menjadi motor utama pelemahan rupiah. Konflik ini berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global, terutama terkait jalur perdagangan vital.
”Investor tetap fokus pada Selat Hormuz, yang sebagian besar tetap tertutup sejak awal konflik. Hal ini memicu kekhawatiran besar di pasar komoditas dan energi,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (12/5).
Sentimen Data Inflasi AS
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga sedang dalam posisi wait and see menanti rilis data inflasi AS bulan April, yakni Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI). Data ini akan menentukan arah kebijakan moneter AS ke depan.
Ahli strategi mata uang di OCBC, Christopher Wong, menilai bahwa stabilnya kekuatan dolar AS saat ini didorong oleh sikap tegas Donald Trump yang menolak tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian.
”Namun, penguatan dolar AS masih terkendali. Ini menunjukkan pasar belum menganggap berita terbaru sebagai guncangan penghindaran risiko sepenuhnya. Meski begitu, kegagalan formal dalam diplomasi atau eskalasi militer baru bisa memicu reaksi pasar yang jauh lebih besar,” jelas Wong dikutip dari MarketScreener.
Pergerakan Rupiah dalam 24 Jam Terakhir, Senin Sore (11/5) Ditutup di level Rp 17.414, Selasa Pagi (12/5) Dibuka melemah 75 poin ke Rp 17.489 dan Selasa Siang (12/5) Terperosok hingga rekor Rp 17.512.
Kondisi ini menempatkan tekanan besar bagi importir dalam negeri dan memaksa pasar domestik untuk waspada terhadap potensi kenaikan harga barang akibat membengkaknya biaya impor. Bank Indonesia diharapkan segera mengambil langkah intervensi guna menahan volatilitas nilai tukar yang kian liar.












