———– Ilustrarsi anak main game
TULUNGAGUNG, AJTTV.COM — Kasus mengejutkan mengenai penyusupan paham radikalisme di dunia digital anak-anak bener-benar menyita perhatian nasional. Seorang siswa kelas 6 Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, saat ini tengah menjalani pendampingan intensif oleh Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) setempat setelah terdeteksi terpapar jaringan kelompok teroris.
Bocah yang masih di bawah umur tersebut diketahui masuk ke dalam pusaran paham radikalisme dan doktrin terorisme melalui interaksi di berbagai platform game online populer, seperti Mobile Legends, Free Fire (FF), hingga Roblox.
Informasi ini mendadak gempar dan menjadi pusat perhatian setelah diunggah oleh akun TikTok resmi media siber ajttv.com. Konten dengan judul “Siswa SD di Tulungagung terpapar Kelompok Teroris dari Game Online, dapat penanganan dari UPT PPA” tersebut langsung meledak dan telah dilihat lebih dari 3,5 juta orang.
Akun AJTTV Digeruduk Gelombang Keresahan Orang Tua
Meledaknya jumlah penayangan hingga menembus angka 3,5 juta views tersebut berbanding lurus dengan gelombang kekhawatiran yang meluap di kolom komentar. Mayoritas masyarakat, khususnya para orang tua, merasa cemas dan mendesak keras agar pemerintah melalui kementerian terkait segera mengambil tindakan tegas untuk memblokir atau menghapus aplikasi game online yang rawan disusupi jaringan radikal.
Bukan sekadar takut akan bahaya laten terorisme, para orang tua juga mengeluhkan perubahan emosi harian anak-anak mereka semenjak kecanduan bermain game di gawai.
Salah seorang netizen bernama Faiz Ilham, secara terbuka menuliskan keluhannya di kolom komentar ajttv.com. Ia bahkan memberikan pesan terbuka yang ditujukan langsung kepada kepala negara karena merasa kewalahan menghadapi perubahan emosi anaknya.
”Tolong baca Pak Presiden, hapus semua aplikasi game. Anak saya semenjak main game bawaannya emosian terus,” tulis Faiz Ilham dalam komentarnya yang mendapat banyak simpati dan likes dari sesama orang tua.
Modus Baru Terorisme Menyasar Dunia Anak
Senada dengan Faiz, sejumlah akun TikToker lain dalam video yang viral tersebut juga menyuarakan tuntutan yang sama. Publik menilai bahwa pengawasan dari sisi keluarga saja kini tidak lagi cukup. Modus penyebaran paham berbahaya terbukti sudah berevolusi, menyusup ke ruang digital yang sangat dekat dengan dunia anak-anak, yaitu melalui fitur obrolan (chat) dan interaksi langsung di dalam game.
Masyarakat meminta pemerintah tidak menutup mata dan segera melakukan evaluasi total atau pembersihan terhadap regulasi peredaran game online di Indonesia yang dirasa masih longgar dari filter radikalisme.
Kasus yang menimpa siswa kelas 6 SD di Tulungagung dan viralnya video AJTTV.COM ini menjadi alarm keras berskala nasional. Selain dituntutnya ketegasan regulasi dan pemblokiran dari pemerintah pusat, peran aktif orang tua untuk memantau dengan siapa anak-anak mereka berinteraksi di dalam game kini menjadi benteng utama yang paling krusial












