Menteri Bahlil Lahadalia / Istimewa
JAKARTA, AJTTV.COM – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengaku sangat penasaran dengan sosok pencipta lagu viral “MBG” atau Mas Bahlil Ganteng. Saking penasarannya, Bahlil secara terbuka menyatakan ingin bertemu langsung dan mengundang sang kreator untuk makan bersama.
Keinginan tersebut disampaikan Bahlil saat berbincang santai dengan Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, melalui video yang diunggah di akun Instagram @raffiahmad.
Baca Juga : cegah penipuan digital registrasi sim biometrik berlaku penuh mulai 1 juli 2026
“Kalau itu asli penasaran Adinda, saya akan minta tolong untuk saya mengundang. Kalau yang bersangkutan berkenan, saya akan mengundang untuk berbincang-bincang sekaligus makan,” ujar Bahlil sambil tersenyum.
Jadi Bahan Candaan Keluarga Hingga Anak Raffi Ahmad
Popularitas lagu MBG ternyata sudah masuk ke lingkungan keluarga sang menteri. Bahlil menceritakan pengalaman uniknya saat menjalankan ibadah umrah, di mana anak-anaknya kerap meledeknya dengan sebutan “Bapak MBG”.
Tidak hanya keluarga Bahlil, Raffi Ahmad juga membeberkan bahwa putra sulungnya, Rafathar, ikut menjadi penggemar berat lagu yang sedang tren di media sosial tersebut. Menurut Raffi, Rafathar sering mencari tahu sosok asli Bahlil gara-gara lagu tersebut.
”Wah, sampai anak saya semuanya jadi MBG. Rafathar nge-fans banget ini Kakanda. Dia nanyain terus,” ungkap Raffi Ahmad.
Apresiasi Kreativitas, Tapi Ingatkan Bahwa SARA Dilarang
Meskipun tidak tahu dari mana lagu itu berasal, Bahlil memilih merespons fenomena ini dengan santai dan positif. Ia mengapresiasi tinggi kreativitas generasi muda di era media sosial saat ini.
Baca Juga : gara gara ipal buruk 16 dapur mbg di trenggalek disuspend pusat
Kendati demikian, mantan Ketua Hipmi ini tetap memberikan catatan penting terkait batas-batas etika dalam membuat konten digital. Ia mengingatkan agar kebebasan berekspresi tidak sampai menyentuh isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) yang bisa memicu perpecahan.
”Cuma satu saja saran saya, di era demokrasi sosmed ini penting. Namun kalau boleh juga dipergunakan dengan terukur. Contoh, jangan sampai masuk di SARA,” tegas Bahlil.
Bagi Bahlil, menjadi bahan gurauan atau meme di media sosial merupakan salah satu risiko yang harus diterima sebagai pejabat publik, selama konten tersebut tetap berada di koridor yang baik dan menghibur.












